Program Unggulan Pokja SELARAS: Sekolah Ramah Damai Berintegritas

Membaca bukan sekadar gerakan mata melafalkan deretan huruf, melainkan perjalanan panjang menembus batas ruang dan waktu, menjemput kebijaksanaan yang tersembunyi di balik lembaran kertas. Di SMP Muhammadiyah 8 Antapani Bandung, semangat itulah yang dihidupkan kembali melalui kegiatan Readathon, bagian tak terpisahkan dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang digagas dan digerakkan sepenuhnya oleh Kelompok Kerja (Pokja) SELARAS—wadah yang menjunjung tinggi nilai perdamaian, keramahan, serta integritas dalam setiap langkah pengembangan pendidikan di sekolah ini. Kegiatan Readathon ini dikordinir oleh ibu Nurwenti, S.Pd.Gr. yang dengan sigap menyiapkan rencana program, rundown, dan hadiah, serta berkordinasi dengan wali kelas dan seluruh warga sekolah.

Readathon lahir dari gabungan dua kata yang sarat makna: read yang berarti membaca, dan marathon yang merujuk pada perlombaan lari jarak jauh yang menguji ketahanan serta ketekunan. Konsep ini mengambil inspirasi dari kisah sejarah maraton di tanah Yunani kuno, di mana seorang pelari menempuh perjalanan jauh dengan penuh kegigihan hanya untuk menyampaikan pesan yang sangat berharga. Begitu pula dengan kegiatan ini: seluruh warga sekolah—mulai dari siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga pimpinan sekolah—bersatu dalam satu aksi serentak, duduk bersama dalam keheningan yang penuh makna, dan melahap halaman demi halaman buku selama empat puluh hingga empat puluh dua menit tanpa henti. Tidak ada suara gaduh, tidak ada gangguan, hanya ada irama napas yang selaras dengan alur cerita, gagasan, dan pengetahuan yang sedang diserap oleh setiap jiwa yang hadir.

Mengapa kegiatan ini dihadirkan? Tentu bukan tanpa alasan yang matang. Pokja SELARAS merancang Readathon dengan tujuan mulia yang ingin dicapai secara bertahap dan berkelanjutan. Pertama, untuk menumbuhkan benih-benih minat dan motivasi membaca yang mungkin belum menyala sepenuhnya di hati setiap warga sekolah. Kedua, untuk membiasakan aktivitas membaca menjadi bagian dari rutinitas harian yang aktif dan konsisten, bukan sekadar kegiatan yang dikerjakan saat ada tugas atau perintah saja. Ketiga, dan yang tak kalah pentingnya, untuk mengasah kemampuan berpikir kritis setiap peserta—yang akan terwujud nyata saat sesi berbagi cerita dan penyampaian ulasan setelah kegiatan membaca selesai berlangsung.

Dan di sinilah momen yang paling ditunggu dan paling seru terjadi! Begitu waktu membaca selesai, keheningan perlahan berganti dengan semangat yang meluap-luap. Para siswa tampak berebut ingin maju ke depan, tak sabar untuk membagikan kesan, pesan, dan inti cerita dari buku yang baru saja mereka telusuri. Keberanian berbicara, kejelasan menyampaikan gagasan, serta keunikan sudut pandang yang mereka kemukakan menjadi pemandangan yang sungguh menyegarkan hati. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan antusiasme tersebut, Pokja SELARAS telah menyiapkan penghargaan yang menarik dan disukai semua siswa, berupa voucher kantin sekolah senilai 30 ribu rupiah. Sungguh sebuah perpaduan yang menyenangkan: setelah berjuang merangkai pemahaman dari halaman-halaman buku, mereka tidak hanya membawa pulang wawasan baru dan inspirasi berharga, tetapi juga mendapatkan “amunisi tambahan” untuk waktu istirahat, yang bisa dinikmati dengan beragam makanan dan minuman lezat di kantin sekolah.

Seringkali kita berpikir bahwa membaca hanya akan terjadi jika seseorang sudah memiliki kesadaran penuh akan pentingnya kegiatan tersebut. Padahal, hakikatnya tidaklah demikian. Kesadaran itu tidak selalu datang duluan sebelum kita melangkah; justru kesadaran itu akan tumbuh dan mekar perlahan saat kita melakukannya secara rutin dan terus-menerus. Jika kita hanya diam menunggu sampai setiap siswa dan warga sekolah “tiba-tiba sadar” akan pentingnya membaca, maka gerakan ini tidak akan pernah beranjak dari tempatnya. Oleh karena itu, langkah awal yang kita ambil adalah: melatih diri untuk membaca, meski pada awalnya terasa berat, meski pada mulanya terasa seperti sebuah kewajiban yang harus dipenuhi. Tekankanlah diri untuk melakukannya sampai akhirnya membaca menyatu dalam kebiasaan, sampai akhirnya hati kita terasa haus akan lembaran-lembaran baru, dan sampai akhirnya kita sadar bahwa setiap halaman yang kita lalui adalah jendela yang terbuka lebar menuju dunia yang lebih luas.

 

Ketika kebiasaan itu telah terbentuk, maka keajaiban demi keajaiban pun akan mulai tampak. Wawasan setiap warga sekolah akan semakin meluas, tak lagi terbatas pada apa yang ada di lingkungan sekitar atau apa yang disampaikan di dalam ruang kelas saja. Sudut pandang akan semakin beragam, kemampuan menimbang dan membedakan hal yang benar dan kurang tepat akan semakin terlatih, serta keterampilan berpikir kritis yang menjadi bekal utama menghadapi masa depan pun akan semakin terasah dengan tajam.

Bagi Pokja SELARAS, Readathon bukan sekadar kegiatan rutin yang diselenggarakan untuk memenuhi target program. Kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen untuk mewujudkan sekolah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga damai, ramah, dan berintegritas. Membaca adalah sarana untuk memahami perbedaan, menghargai sesama, dan menumbuhkan sikap yang jujur serta bertanggung jawab—nilai-nilai yang menjadi jiwa dari nama SELARAS itu sendiri.

Melalui Readathon, SMP Muhammadiyah 8 Antapani Bandung ingin mengajak semua pihak untuk menyadari bahwa perubahan besar selalu bermula dari langkah kecil yang dilakukan bersama. Membaca selama empat puluh dua menit mungkin terasa sederhana, namun jika dilakukan dengan hati yang tulus dan niat yang lurus, hal itu akan menjadi fondasi kokoh bagi terbentuknya generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu merenung, memahami, dan membawa perubahan yang baik bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat luas.

Foto Bersama
Hadiah untuk Reviewer Buku

Mari kita jadikan setiap lembar buku yang kita baca sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bermanfaat. Karena sejatinya, setiap orang yang gemar membaca, sedang memegang kendali atas masa depannya sendiri—dan Readathon adalah awal dari perjalanan indah itu, yang kita tempuh bersama, selangkah demi selangkah, dengan semangat yang tak pernah padam.

Ditulis oleh: Inayah Tarmidzi, M.Pd.