SMP Kristen Yahya dan SMP Muhammadiyah 8 Bandung patut dijadikan sebuah percontohan bagaimana kurikulum pendidikan tentang nilai-nilai keberagaman dan toleransi diajarkan kepada setiap anak didiknya, tak terkecuali di dalam kelas.

Kedua sekolah ini berinisiatif membuat program bersama untuk saling mempertemukan murid-muridnya yang berbeda agama dalam sebuah acara.

Sarah Huwaidah, siswi kelas 8 SMP Muhammadiyah 8 Bandung, sangat antusias saat menceritakan pengalamannya berkunjung ke SMP Kristen Yahya pada akhir Oktober lalu. Raut wajahnya berbinar ketika mengungkapkan prasangkanya terhadap umat Nasrani selama ini berubah.

“Awalnya kan prasangka saya orang Kristen itu sombong. Eh, ternyata prasangka saya salah. Baik-baik kok. Malah sampai sekarang masih suka chat, masih temenan,” ujar Sarah saat bercerita kepada kumparan beberapa hari lalu.

Sarah beserta teman-temannya dan guru SMP Muhammadiyah sengaja berkunjung ke SMPK Yahya. Kunjungan itu merupakan wujud dari program saling kunjung yang diinisiasi oleh kedua sekolah dan komunitas Peace Generation, untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi kepada murid-muridnya.

Dalam setiap kunjungan, murid-murid dari kedua sekolah tersebut dibiarkan untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam bentuk sebuah permainan.

“Jadi sebelumnya anak-anak SMP Yahya main juga ke sini. Kita main games bareng. Serulah. Kita jadi tahu meskipun beda agama kita masih bisa saling berteman,” kata Sarah .

Program saling kunjung ini dicetus oleh kedua sekolah ketika mereka merasa kurikulum yang ada sekarang masih kaku dalam hal menanamkan nilai-nilai perdamaian kepada murid-muridnya. Program saling kunjung ini dinilai efektif untuk meruntuhkan prasangka perbedaan pada benak anak-anak.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Muhammadiyah 8 Cepi Aunilah mengatakan, program ini sengaja dibuat untuk mengenalkan anak-anak pada sebuah perbedaan secara nyata. Menurutnya, sekolahnya memilki misi yang sama dengan SMPK Yahya untuk membentuk karakter murid-muridnya agar bisa mencintai perdamaian.

“Sekarang tantangannya sangat berat, di medsos banyak informasi-informasi yang bisa memecah. Tapi kalau anak-anak itu sudah memahami nilai-nilai perdamaian, mereka akan sadar, kok ternyata tidak seperti ini,” kata Cepi saat ditemui kumparan di SMP Muhammadiyah 8, Antapani, Kota Bandung.

Ia menganggap program saling kunjung itu bisa perlahan memutus prasangka-prasangka muridnya terhadap orang yang berbeda keyakinan. Anak-anak dinilai masih memilki prasangka buruk terhadap orang yang berbeda agama, yang disebabkan oleh faktor lingkungan sosial anak dan asupan informasi yang mereka dapat.

“Awalnya ada benteng pembatas seperti jangan deket-dekat orang Kristen. Ternyata setelah kegiatan ini, asal keyakinan kita dijaga masih bisa berteman. Mereka akhirnya bisa main bersama membuat permainan supaya mereka kenal dan saling cerita. Anak-anak bilang ternyata sama juga kok,” jelas Cepi.

Peran Guru Sangat Penting Ciptakan Kultur Perdamaian

Ema Ridawati, guru PKN di SMP Kristen Yahya, Bandung, cukup terperanjat ketika salah satu muridnya tiba-tiba bertanya, “Bu, benar enggak sih yang ngebom itu orang Islam?”

Ia mengaku mencoba menjawab pertanyaan tersebut, dengan harapan bisa memberikan pemahaman utuh yang bisa diterima oleh muridnya.

“Betul mungkin secara indvidu Islam. Tapi tidak ada dalam ajaran Islam yang boleh membunuh. Semua dijelaskan dalam Al-quran, saya lihat tidak ada lho, nak. Semua agama mengajarkan membunuh itu tidak boleh,” ujar Ema menirukan kembali jawabannya.

Ema merupakan salah satu guru beragama Islam di sekolah itu justru berharap pertanyaan-pertanyaan semacam itu dilontarkan oleh murid-muridnya saat dia mengajar di kelas. Menurutnya, pertanyaan tersebut justru bisa membiasakan anak-anak dalam berdialog.

“Sebenarnya itu yang terjadi di anak-anak tinggal bagaimana kita orang dewasa memberi penguatan kepada mereka,” ucap dia.

Prasangka-prasangka tersebut diakui masih ada pada sebagian murid-muridnya. Untuk mengikis prasangka buruk itu tak cukup hanya melalui materi di dalam kelas. Mesti ada contoh dan teladan dari guru dan orang dewasa terdekat. Selain itu, anak-anak harus dibiasakan berinteraksi dengan orang yang berbeda darinya.

“Mereka awalnya punya prasangka. Yang Islam punya prasangka kepada yang bukan Islam. Yang bukan Islam juga punya prasangka kepada yang Islam. Tapi ketika event terakhir (kunjungan SMP Muhammadiyah) mereka menuliskan prasangka lalu mereka mendobraknya,” ungkap Ema.

Program saling kunjung sekolah dengan basis agama berbeda diakui bukan suatu yang mudah dilakukan. Masih banyak sekolah yang menganggap hal tersebut masih tabu.

Kepala Sekolah SMPK Yahya Sony Karundeng mengatakan, pihaknya ingin program ini tak hanya dijalin dengan SMP Muhammadiyah saja. Ia berharap, sekolah lain dapat ikut dalam program ini. Namun, masih banyak sekolah yang masih sulit untuk mewujudkan program tersebut.

“Mungkin mereka terbentur dengan kebijakan yayasan atau yang lainnya,” ujar Sony.

Founder Peace Generation Irfan Amalee mengungkapkan, di tengah polarisasi agama yang semakin menguat, peran guru sangat penting dalam meruntuhkan prasangka yang tertanam di benak murid-murid.

“Jadi polarisasi itu semakin kuat. Makannya kita mengajarkan nilai-nilai perdamaian dengan memeprtemukan murid Islam dengan nonislam. Agar prasangka-prasangka bisa dihancurkan,” kata Irfan.

Ia mencontohkan, sampai saat ini masih banyak sekolah atau pendidik yang memandang mengajarkan perdamaian cenderung memojokkan agama tertentu. Misalnya, saat membahas soal radikalisme di sekolah, ia kerap dicap menyudutkan Islam.

“Itu yang menjadi kelemahan lemah di pendidik kita pada umumnya. Bahkan ada kesalahpahaman tentang toleransi. Jadi mereka masih mengagap radikalisme itu isu yang menydutkan Islam misalnya. Sehingga mereka tidak mau mengajari itu. Kita juga sering dicurigai kita mau mengajarakan perdamaian tapi dicurigai. Itu juga tanda masih ada alergi,” ungkap Irfan.

Fenomena akan melunturnya nilai-nilai toleransi dan perdamaian di tingkat lembaga pendidikan tercermin dalam hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Survei menunjukkan 53 persen guru-guru di Indonesia secara implisit memilki opini intoleransi.

Pada hasil riset yang dirilis pada Oktober 2018 menunjukkan guru-guru di Indonesia dari tingkat TK hingga SMA memilki opini intoleran dan opini radikal yang tinggi.

Menurut Direktur PPIM UIN Syarif Hidayatullah, Saiful Umam, contoh pernyataan opini intoleran dari hasil survei terhadap guru-guru itu salah satunya adalah mereka tidak setuju bahwa nonmuslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka.

“Opini tersebut disetujui oleh 56 persen guru dari sampel 2.37 guru yang tersebar di seluruh provinisi di Indonesia,” ucap Saiful.

Faktor yang melatarbelakangi opini guru paling banyak didasari oleh pandangan keagamaan yang sempit. Selain itu, faktor demografis dan preferensi ormas guru tersebut menjadi faktor yang ikut mempengaruhi.

“Faktor Islamisme menjadi salah satu variabel penting yang terkait dengan intoleransi dan radikalisme guru,” pungkasnya.

Sumber: Kumparan