TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – SMP Muhammadiyah 8 Bandung menjadi  sekolah percontohan dalam bidang metode pembelajaran kolaboratif multidisiplin ilmu antara science, technology, engineering, and math (STEM) di Bandung.

Metode pembelajar yang mengajak siswa untuk dapat berpikir layaknya peneliti untuk menciptakan sebuah solusi dari masalah di lingkungan kesehariannya tersebut telah diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar para siswa-siswinya sejak tahun 2013 hingga saat ini.

Kepala SMP Muhammadiyah 8 Bandung, Taofik Yusmansyah saat ditemui di sekolahnya, Jalan Kadipaten Raya Nomor 4-6 Antapani Bandung pada Jumat (20/7) mengatakan, penerapan metode pembelajaran STEM di sekolahnya ini telah banyak dijadikan objek penelitian dan observasi oleh berbagai sekolah lain juga di tingkatan perguruan tinggi, dengan tujuan yang sama, yakni penerapan metode ini di sekolah masing-masing.

“Sebenarnya metode ini sekitar tahun 2013 ditawarkan oleh para dosen Fakultas Pendidikan Fisika UPI, Ida Kaniawati dan Irma Rahma Suwarma, untuk menjaga program STEM education di sekolah kami. Mereka mengajar dan membimbing kami (para guru) selama empat atau lima tahun dan hasilnya, alhamdulillah kami bisa mengimplementasikannya kepada anak-anak didik saat ini dan menjadi objek observasi oleh Universitas Syiah Kuala dari Banda Aceh untuk diterapkannya disana,” ujar Taofik di sekolah.

Taofik menyebutkan, selain penerapan metode STEM di dalam kelas, pihaknya juga mengaplikasikan metode pembelajaran itu dalam sebuah ekstrakurikuler di sekolahnya. Dimana para siswa akan lebih terlatih kepekaannya dengan cara praktik langsung membuat sebuah karya dari apa yang menjadi temuannya.

“Penerpan pembelajaran STEM itu bisa melalui sebuah studi kasus yang dalam istilah kita problem based learning atau project based learning. Untuk semakin mempromosikan STEM ini sangat bermanfaat, kami juga sudah mengikuti kegaiatan-kegiatan camp di luar negeri, salah satunya dua kali di Shizuoka Jepang sebagai salah satu negara asal metode ini,” ucapnya.

Intinya kata Taofik, metode pembelajaran STEM ini ingin menjadikan bahwa sains itu tidak boleh selesai hanya dari teoritis dalam buku pengetahuan, tetapi bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

“Maka dari itu kami berharap, para siswa untuk dapat peka dan kemudian tergerak membuat sebuah solusi yang  berkenaan dengan sains untuk dapat memecahkan permasalahan di lingkungan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, hal senada disampaikan oleh Dosen Fakultas Pendidikan Fisika UPI Ida Kaniawati, dirinya menuturkan, bahwa dengan metode pembelajaran STEM maka siswa diarahkan untuk lebih kritis akan lingkungan yang berada disekitarnya. Sehingga tidak hanya terpaku pada buku pelajaran maupun pengajaran dari guru.

“Melalui metode pembelajaran ini, maka siswa menjadi peka akan isu-isu yang ada disekitar, kemudian mengidentifikasi masalahnya. Tapi tidak hanya itu mereka juga harus bisa merancang solusinya,” ujarnya saat didampingi oleh Dosen FP Fisika UPI lainnya, Irma Rahmasuwarma di SMP Muhammadiyah 8 Bandung.

Ida menambahkan, dengan metode ini, siswa akan semakin percaya diri akan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, serta ikut mengekplorasi mencari solusi akan berbagai masalah yang ada disekitarnya.

Dirinya menilai dengan penerapan metode tersebut di SMP Muhammadiyah 8 Bandung sejak 2013, terlihat perubahan yang signifikan dalam cara belajar siswa. Dimana siswa lebih kreatif dan kritis dalam mengembangkan solusi akan permasalahan yang dihadapinya.

“Disini terlihat banyak potensi dari siswa yang dapat digali melalui metode pembelajaran ini. Penerapannya di SMP Muhammadiyah 8 Bandung yang sudah lima tahun sejak 2013 lalu, terlihat ada perubahan positif dalam pembelajaran yang dilakukan oleh siswa,” tambahnya.

Disinggung mengenai tantangan dari penerapan metode ini, Ida menjelaskan, perlu adanya daya kreativitas dan nalar yang luar dari para guru dalam memberikan pelajaran. Sehingga bagi siswa mempelajari STEM merupakan sesuatu hal yang menyenangkan.

“Karena itu para pendidik di tuntut untuk kreatif, sehingga para siswa akan semakin yakin bahwa mereka mampu menginvestigasi dan menemukan pemecahan masalah, layaknya seorang ilmuwan,” katanya. 


Sumber: Tribun Jabar