Our School

2.1        Sejarah Singkat

Lembaga pendidikan Muhammadiyah didirikan pada tahun 1985, oleh Pimpinan Muhammadiyah Daerah Bandung. Alur cerita pendiriannya bersumber dari cerita yang disampaikan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah saat itu yaitu KH. Abdurraman.  Beliau mengungkapkan bahwa pada saat diadakan  rapat kecil pimpinan Muhammadiyah, tak sengaja membaca iklan dari sebuah media masa yang tertulis akan didirikan 2000 rumah di Antapani dan sebuah lahan tanah untuk lembaga pendidikan. Secara spontan muncul ide untuk mendirikan sekolah karena dihawatirkan akan dibangun oleh non muslim yang tentunya akan berpengaruh pada masyarakat penghuni 2000 rumah tersebut. Namun membangun tak semudah merusak, mendirikan tak semudah menghancurkan karena banyak aral melintang di depan. Tercatat tak kurang dari 14 lembaga non muslim telah siap secara materi atau finansial untuk membeli lahan tanah yang sekarang berlokasi di jalan Kadipaten Raya. Sebaliknya, Muhammadiyah tak memiliki dana sepeserpun kecuali semangat dan kerja keras  dan memang hanya organisasi Muhammadiyah yang saat itu siap bersaing. Andaikan organisasi dakwah Muhammadiyah mundur artinya telah mengorbankan aqidah 2000 rumah tangga begitu saja.

Harga lahan tanah yang diperuntukan untuk sekolah tersebut sebesar 162 juta rupiah, dan uang muka harus dibayar lebih awal sebesar 30% dari harganya, sisianya harus dicicil dalam tempo lima tahun. Untuk mengumpulkan dana tersebut tentunya tidak mudah, tetapi semua itu tentu saja harus dihadapi demi meraih sebuah cita-cita yang mulia. Selain mengumpulkan dana dari para donatur khususnya pengusaha-pengusaha arab, para pendiripun tak segan merogoh saku sendiri. 20 gram kalung istrinya mengawali infaq dalam sebuah rapat kecil itu dan diikuti donatur lainnya.

 

2.2        Tokoh Pendiri

Sebagai tindak lanjut dari pemuka-pemuka Muhammadiyah di PDM Kodya Bandung, maka pada tahun 1985 terlebih dahulu didirikan Sekolah Bustanul Athfal 12, dan satu tahun kemudian yaitu pada tahun 1986 maka dengan resmi Sekolah Dasar  Muhammadiyah 7 Bandung didirikan, dan pada tanah yang kosong tersebut dibangun 10 ruangan belajar. Sebagai legalitas organisasi atas pendirian sekolah tersebut, pada tahun 1987 Surat Keputusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung dengan Nomor: A-1/087/1987 menetapkan dan mengesahkan pendirian Perguruan SD Muhammadiyah 7 Antapani Bandung terhitung mulai tanggal 1 Juli 1987.

Untuk lebih memaksimalkan fungsi ruangan kelas, pada tahun 1988 didirikan SMP Muhammadiyah 8, dengan kepala sekolah pertama yaitu Sidik Hasan. Pembelajaran dilaksanakan pada siang hari setelah siswa SD keluar. Kemudian pada tahun 1989 dibangun gedung baru untuk pembelajaran SMP sebanyak 3 lokal, sehingga pembelajaran SMP yang semula dilakukan pada siang hari, dapat dilaksanakan pada pagi hari sama dengan pembelajaran SD. Pada tahun 1991, SMA Muhammadiyah yang berada di Jl. Padasuka Bandung berpindah dan bergabung ke komplek perguruan Muhammadiyah Jalan Kadipaten Raya, menempati gedung baru SMP yang pembelajarannya dilaksanakan pada siang hari. Kepala Sekolah yang pertama memimpin ialah Sholihin. Tahun 1997 SMA Muhammadiyah 2 Bandung mendapat bantuan dari dinas pendidikan untuk membangun gedung baru sebanyak 6 lokal, sehingga setelah selesai dibangun berpindah dan pembelajaran dilakukan pada pagi hari juga.

Dikarenakan jumlah siswa SD terus bertambah, dan ruangan belajar tidak memadai walaupun terus diupayakan dan sempat menempati sebagian ruangan lokal belajar SMP, maka  pada tahun 2007 dibangun gedung baru sebanyak 9 lokal dengan dana talangan dari Bank Syari’ah Jabar Banten. Kemudian pada tahun pelajaran 2008-2009 Sekolah Dasar Muhammadiyah 7 Bandung, melakukan prgram strategik, yaitu berusaha melakukan unifikasi Sekolah Dasar dengan Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 8 yang sama-sama berlokasi di Jalan Kadipaten Raya, yaitu memprogramkan agar siswa-siswi yang telah lulus dari SD diharapkan dapat melanjutkan langsung ke SMP Muhammadiyah, atau dengan kata lain berkelanjutan selama sembilan tahun lamanya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah wajib belajar sembilan tahun. Selain itu asumsi bahwa pendidikan 6 tahun belum cukup untuk menanamkan nilai-nilai mental spiritual bagi peserta didik sehingga perlu dilanjutkan menjadi 9 tahun, agar peserta didik lebih kuat fundamental agamanya, sehingga lebih tangguh ketika harus menjalankan proses kehidupan dalam fase-fase selanjutnya[1]. Unifikasi tersebut dipimpin langsung oleh H. Acep Mansur salah seorang anggota dari Majlis DIKDASMEN kota Bandung. Salah satu bentuk program peningkatan kualitas pengajar di SMP Muhammadiyah, yang diharapkan memiliki kualitas setidaknya sama dengan kualitas SD yang dapat dikatakan maju, maka Tim Unifikasi sekolah melakukan management sekolah satu atap. Selain itu setiap guru yang akan mengajar pada kelas 7 harus mengikuti seleksi terlebih dahulu sesuai dengan prosedur yang disiapkan.

Atas kerja keras TIM Unifikasi Sekolah, akhirnya program sekolah berkelanjutan itu terealisasi dan mendapatkan respon yang positif dari orangtua siswa dan masyarakat. Angkatan pertama kelas 7 alhamdulillah mendapatkan siswa sebanyak dua kelas. Siswa tersebut ada yang dari SD Muhammadiyah 7 Bandung dan adapula yang dari SD luar, sehingga pada tahun ajaran 2010-2011 sudah memiliki tiga angkatan sebanyak enam kelas.

Untuk lebih meningkatkan lagi kemajuan sekolah, pada tahun 2010 sekolah Dasar Muhammadiyah 7 Bandung melangkah lebih jauh lagi yaitu dengan menerima amanah mengelola Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).  Tujuan utamanya sebagaimana program pemerintah Kemendiknas  RI dimana Pendidikan Nasional harus dapat memberikan layanan pendidikan yang berkualitas. Program tersebut tentunya mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, baik dari internal sekolah yang dalam hal ini Pimpinan Daerah Bandung yang diketuai oleh H. Tjutju Sahrum dan Majlis Dikdasmen Muhammadiyah, maupun dari eksternal sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kota dan Provinsi. Sebelum diresmikan menjadi sekolah RSBI, sebagaimana lajimnya sekolah-sekolah RSBI lainnya, Sekolah Dasar Muhammadiyah 7 Bandung terlebih dahulu diverifikasi mengenai kelayakannya untuk memperoleh status RSBI, dan  ternyata setelah dilakukan verifikasi, Sekolah Dasar Muhammadiyah 7 Bandung sudah cukup sebagai syarat RSBI, terutama menyangkut sarana dan prasarana dan juga SDM Sekolah, sehingga dengan ridha dan azin Allah SWT pada tahun 2010 di kota Bandung sudah terdapat status RSDBI.