Pengembangan Diri Melalui Ekstrakurikuler

Rabu, 07 Agustus 2019, 07:06:20 WIB || Dibaca 114  


Liburan telah usai. Kini seluruh siswa sudah kembali masuk sekolah. Kegiatan awal sekolah biasanya dimulai dengan penyambutan dan pembukaan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) untuk siswa baru. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengenalkan lingkungan sekolah dan lingkungan pendidikan agar siswa baru merasa kerasan.

Hakikatnya, untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas, tidak melulu harus ditempuh dengan proses belajar mengajar di kelas secara menoton. Harus ada perpaduan antara pengajaran di kelas dan di luar kelas sehingga nantinya bisa menghasilkan siswa cerdas secara spiritual, cerdas intelektual, dan cerdas emosional.

Satu di antara cara mewujudkan hal tersebut adalah dengan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler diharapkan bisa menjadi wahana dan kegiatan menyenangkan bagi siswa sehingga nantinya diharapkan mereka bisa memiliki kecerdasan kinestik, komprehensif, dan kompetitif.

Ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan bimbingan konseling untuk pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat. Selain itu, kstrakurikuler bisa dislaksanan melalui kegiatan khusus yang diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.

Ekstrakurikuler sangat penting dilaksankan oleh sekolah karena setiap anak memiliki kecedasan majemuk atau multiple-intelegennces yang bisa dikembangkan pada kegiatan Ekstrakurikuler. Selain untuk mengembangkan kecerdasan majemuk, esktrakurikuler bisa melatih anak untuk belajar kemampuan dasar dalam menghadapi abad 21. Kegiatan ekstrakurikuler sebagai kegiatan untuk menjaring bakat dan minat setiap siswa.

Bahkan, banyak di antara atlet-atlet nasional kita yang lahir dan berawal dari kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolahnya. Jadi, tidak ada alasan siswa tidak berkegiatan dalam ekstrakurikuler karena nialinya sama saja dengan kegiatan pendidikan—hanya lebih santai.

Jika kita cermati dengan saksama, fungsi ekstrakurikuler secara umum terbagi menajdi empat bagian: Pertama, fungsi pengembangan, yaitu mengembangkan kemampuan dan kreativitas siswa sesuai dengan potensi, bakat, dan minat mereka.

Kedua, fungsi sosial, yaitu mengembangkan kemampuan dan  rasa tanggung jawab sosial siswa. Ketiga fungsi rekreatif, yaitu mengembangkan suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik yang menunjang proses perkembangan. Keempat, fungsi  mengembangkan kesiapan karier siswa dalam prestasi nonakademik.

Fungsi-fungsi tersebut harus dioptimalkan karena banyak hal positif yang didapatkan oleh siswa. Secara langsung ataupun tidak langsung, siswa akan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan saling pengertian, memupuk etos kerja, meningkatkan kerja sama, dan sekaligus kegiatan yang menyenangkan.

Pola kegiatan Ekstrakurikuler bisa dilaksanakan secara individual, kelompok, klasikal ataupun gabungan. Agar ekstrakurikuler berjalan dengan baik, diperlukan pelatih atau pembimbing yang profesional sesuai bidangnya masing–masing. Kalau ekstrakurikulernya bidang agama, ya guru agama otomatis yang jadi pembimbingnya.

Selain itu, untuk mengukur keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler, diperlukan pemantauan secara langsung melalui kegiatan pengawasan. Pemantauan atau pengawasan bisa dilaksanakan oleh pihak sekolah ataupun dari luar yang memiliki kewenangan. Hasil dari pengawasan dianalisis dan ditindaklanjuti untuk peningkatan mutu kegiatan ekstrakurikuler. 

Kunci suskes kegiatan ekstrakurikuler ada tiga: pertama, semua elemen berkomitmen untuk meiningkatkan potensi siwa; kedua, kemitraan atau kerja sama; dan ketiga, konsisten dalam menjalankan program. Dan jangan lupa juga peran guru pembimbing di dalamnya.

Seyogianya, guru bisa menjadi pembimbing, pengarah, sekaligus “pelatih” yang bermata elang dalam menentukan kemampuan siswa. Siapa tahu, dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah lahir atlet atau ilmuwan cerdas masa depan. Wallahu’alam. (Cepi Aunilah)